RSS

Download Program Visual Basic Pengurangan dua bilangan bulat

Untuk mendownload Program Visual Basic Pengurangan Dua Bilangan Bulat silahkan klik disini

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2013 in Uncategorized

 

Download Program Visual Basic Menghitung Volume Balok

Download Program Visual Basic Menghitung Volume Balok Klik Disini

 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2013 in KULIAH

 

PENDEKATAN IKLIM SOSIOEMOSIONAL

BAB I

PENDAHULUAN

1.1      LATAR BELAKANG

Seorang guru memiliki peranan sebagai pengelola aktivitas yang harus bekerja berdasar pada kerangka acuan pendekatan pengelolaan kelas. Mengelola kelas dalam proses pemecahan masalah bukan terletak pada banyaknya macam kepemimpinan dan kontrol, tetapi terletak pada ketrampilan memberikan fasilitas yang berbeda-beda untuk setiap peserta didik. Pemecahan masalah merupakan proses penyelesaian yang beragam, ini tergantung pada sumber permasalahan.

Guru harus memiliki, memahami dan terampil dalam menggunakan macam-macam pendekatan dalam pengelolaan kelas, meskipun tidak semua pendekatan yang dipahami dan dimilikinya dipergunakan bersamaan atau sekaligus. Dalam hal ini , guru dituntut untuk terampil memilih atau bahkan memadukan pendekatan yang menyakinkan untuk menangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapi.

Di kelaslah segala aspek pendidikan pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat individualnya. Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran dengan segala pokok bahasanya bertemu dan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Mengingat pentingnya pendekatan dalam pengelolaan kelas, maka pada makalah ini penulis akan membahas mengenai salah satu pendekatan dalam pengelolaan kelas yaitu Pendekatan Iklim Sosio-Emosional.

1.2      RUMUSAN MASALAH

Dengan melihat latar belakang diatas maka dapat dirumuskan beberapa masalah. Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

            1.2.1 Bagaimana pendekatan iklim sosio-emosional secara umum?

            1.2.2 Bagaimana pendapat para ahli mengenai pendekatan iklim sosioemosional?

            1.2.3 Apa saja kelebihan dan kelemahan dari pendekatan iklim sosio-emosional?

1.3      TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

1.3.1   Untuk mengetahui tentang pendekatan sosio-emosional

1.3.2 Untuk mengetahui cara menciptakan kondisi sosio-emosional yang positif serta      kelebihan dan kekurangan dari pendekatan iklim sosio-emosional.

1.4      MANFAAT

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari makalah ini :

1.4.1   Memberikan informasi pada pembaca tentang pendekatan iklim sosio-emosional.

1.4.2 Dapat menjadi pedoman bagi calon guru dalam menerapkan pendekatan iklim sosio-emosional dalam kelas


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pendekatan Iklim Sosio-Emosional Secara Umum

Pendekatan Iklim Sosio-Emosional dalam pengelolaan kelas berakar pada psikologi penyuluhan (konseling) dan klinis sehingga menekankan pentingnya hubungan interpersonal. Guru adalah penentu utama dari hubungan interpersonal dan iklim (suasana) kelas. Dengan demikian, tugas yang amat pokok bagi guru ialah membangun hubungan interpersonal dan mengembangkan iklim sosio-emosional yang positif.

Pendekatan iklim sosio-emosional akan tercapai secara maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan murid serta hubungan antar murid. Dalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu, seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas untuk terciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap mengayomi atau sikap melindungi.

2.2      Pendekatan Iklim Sosio-Emosional Menurut Para Ahli

Dalam pendekatan iklim sosio-emosional dalam pengelolaan kelas terdapat beberapa pakar yang mengemukakan pendapatnya, yaitu :

Carl A. Rogers

Haim C. Ginnot

William Glasser

Rudolf Dreikurs

2.2.1 Menurut Carl A. Rogers

Ide yang menyangkut ciri-ciri pendekatan iklim sosio-emosional ini dapat dijumpai dalam tulisan-tulisan Carl Rogers. Pokok pikiran Rogers menyatakan bahwa faktor yang amat berpengaruh terhadap peristiwa belajar adalah mutu sikap yang ada dalam hubungan interpersonal antara guru (sebagai fasilitator) dan siswa (sebagai pelajar). Menurut Rogers, beberapa sikap yang perlu dimiliki guru untuk membantu siswa belajar adalah

Sikap kesadaran akan diri sendiri, keterbukaan dan tidak berpura-pura.

Guru perlu mengenal dirinya dengan baik dan menampilkan dirinya sendiri sebagai mana adanya. Guru hendaknya menyadari perasaan – perasaannya sendiri, menerima perasaan itu dan jika perlu mengkomunikasikan perasaan itu. Tindakan guru harus sesuai dengan perasaan itu dan tidak pernah berpura – pura. Pengembangan hubungan interpersonal dan iklim sosio – emosional yang positif amat dipengaruhi oleh kemampuan guru menampilkan dirinya sebagaimana adanya. Menurut Rogers, penampilan diri sebagaimana adanya merupakan sikap yang paling penting yang mempengaruhi proses belajar.

Sikap menerima, menghargai, mau membantu, dan percaya

Penerimaan guru merupakan sikap kedua yang juga amat penting dalam membantu siswa belajar. Penerimaan guru mengisyaratkan bahwa guru memandang siswa sebagai individu yang berharga. Hal ini juga menandakan adanya kepercayaan guru kepada siswa. Jika tingkah laku siswa diterima guru, maka siswa itu akan merasa bahwa ia dipercaya dan dihormati. Dengan demikian, guru yang menghormati dan mempercayai siswa akan mempunyai kesempatan yang besar untuk menciptakan iklim sosio emosional yang dapat membantu kesuksesan belajar siswa.

Sikap mau mengerti dengan penuh empati

Pengertian dengan penuh empati merupakan kemampuan guru untuk memahami keadaan siswa sesuai dengan pandangan siswa itu sendiri. Kemampuan ini menunjukkan kepekaan guru terhadap perasaan – perasaan siswa dan kepekaan guru untuk tidak memberikan penilaian terhadap keadaan siswa. Pengertian mendalam yang tanpa disertai penilaian ini perlu dilengkapi empati dari guru terhadap siswa. Jika hal ini terjadi, maka siswa akan merasa bahwa guru mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh siswa. Dengan demikian, hubungan interpersonal dan iklim sosio – emosional yang positif akan berkembang, dan selanjutnya pengaruh besar terhadap kegitan belajar siswa.

2.2.2 Menurut Haim C. Ginnot

Dalam pengembangan iklim sosio-emosional yang positif Ginot menekankan pentingnya komunikasi yang diselenggarakan oleh guru. Yang amat perlu diperhatikan adalah komunikasi itu ialah bahwa guru hendaklah membicarakan keadaan yang dijumpai pada waktu itu dan tidak membicarakan pribadi ataupun sifat-sifat siswa. Jika guru dihadapkan pada perilaku siswa yang tidak menyenangkan, guru disarankan agar menjelaskan apa yang dilihatnya, apa yang dirasakan, dan apa yang sebaliknya dilakukan. Sebagai tambahan, Ginot mengemukakan sebuah daftar saran tentang cara-cara yang hendaknya dilakukan oleh guru dalam berkomunikasi secara efektif, yaitu sebagai berikut

Alternatif pembicaraan pada keadaan siswa. Janganlah menilai sifat atau pribadi    siswa, sebab hal ini dapat merendahkan martabat siswa.

Jelaskanlah keadaan sebagaimana adanya, nyatakanlah perasaan tentang keadaan itu, dan jelaskan harapan anda berkenaan dengan keadaan itu.

Kemukakanlah perasaan yang benar-benar keluar dari hati sanubari anda untuk membangkitkan pemahaman para siswa tentang keadaan yang mereka hadapi.

Hilangkanlah kekerasan dengan himbauan kerjasama dan penyajian kesempatan bagi para siswa untuk bertindak secara bebas.

Kurangilah keengganan/penolakan siswa dengan jalan tidak memerintah atau menuntut mereka melakukan sesuatu yang dapat membangkitkan sikap mempertahankan diri.

Kenalilah, terimalah dan hormatilah ide-ide serta perasaan-perasaan siswa yang dapat membangkitkan kesadaran akan harga diri mereka.

Hindarkanlah usaha diagnosis dan pragnosis yang menghasilkan pemberian ciri – ciri tertentu pada siswa yang seringkali tidak tepat .

Jelaskan prosesnya, bukan menilai hasil-hasilnya atau orangnya. Berikanlah bimbingan bukan kritik.

Hindarilah pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang dapat menimbulkan kemarahan atau sikap bertahan.

Hindarilah penggunaan kata-kata kasar, sebab hal itu dapat menghilangkan harga diri siswa.

Tahanlah keinginan untuk memberi pemecahan masalah yang segera terhadap masalah yang dihadapi siswa: pakailah waktu yang tersedia untuk membimbing siswa sehingga mereka mampu mengatasi sendiri masalah itu.

Berusahalah untuk berbicara singkat saja misalnya hindari pemberian ceramah yang panjang – lebar dan bertele – tele karena hal itu tidak akan memotivasi siwa.

Perhatikan dan amatilah pengaruh kata-kata tertentu terhadap siswa.

Pakailah pujian-pujian yang bersifat menghargai siswa, karena hal itu bersifat produktif misalnya hindarilah pemakaian pujian – pujian atas pertimbangan – pertimbangan yang tidak wajar, karena hal itu bersifat destruktif.

Dengarkanlah apa yanng dikatakan para siswa dan doronglah mereka untuk menyatakan ide – ide dan perasaan – perasaan  mereka.

2.2.3 Menurut William Glasser

Menurut Glasser, satu – satunya kebutuhan dasar  yang dimiliki oleh manusia adalah kebutuhan akan identitas diri, yaitu perasaan bahwa diri sendiri memang dapat tegak berdiri dan penuh arti. Agar siswa dapat mencapai pengalaman sukses di sekolah, maka siswa harus mampu mengembangkan tanggung jawab sosial dan perasaan bahwa dirinya berarti. Tanggung jawab sosial dan perasaan berarti ini merupakan hasil dari hubungan yang baik antara siswa dengan orang lain. Dengan demikian, hal penting dalam pengembangan pengalaman sukses ini adalah keterlibatan siswa. Perilaku siswa yang menyimpang adalah buah kegagalanya mengembangkan pengalaman sukses. Dalam kaitan itu, Glasser mengemukakan delapan langkah untuk membantu peserta didik mengubah perilakunya berikut ini:

secara pribadi melibatkan diri dengan siswa, menerima siswa tetapi bukan kepada perilakunya yang menyimpang, menunjukkan kesediaan membantu siswa memecahakan masalah.

Memberikan uraian kepada tentang perilaku siswa, mengenai masalah tetapi tidak menilai atau menghakimi siswa.

Membantu siswa membuat penilaian atau pendapat tentang perilakunya yang menjadi masalah itu. Pusatkan kepada apa dilakukan oleh siswa yang menimbulakan masalah dan apa yang menyebabkan kegagalan.

Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik; jika perlu berikan alternatif; bantulah siswa membuat keputusan sendiri berdasarkan penilaiannya atas alternative-alternatif yang ada untuk mengembangkan perasaan tanggung jawab sendiri.

Membimbing siswa mengikatkan diri dengan rencana yang telah dibuatnya.

Mendorong siswa sewaktu melakukan rencananya dan memelihara keterikatannya dengan rencana tersebut, yakinkan siswa bahwa guru mengetahi kemajuan kemajuan yang dibuatnya.

Tidak menerima pernyataan maaf siswa apabila siswa gagal meneruskan keterikatannya, bantulah ia memahami bahwa ia sendirilah yang bertanggungajawab atas perilakunya, ingatkan siswa akan perlunya rencana yang lebih baik, menerima pernyataan maaf berarti tidak memusingkan masalah siswa.

Memberikan kesempatan kepada siswa merasakan akibat wajar dari perilakunya yang menyimpang tetapi jangan menghukumnya, bantulah siswa mencoba lagi menyusun rencana yang lebih baik mengikatkan diri dengan rencana tersebut.

Glasser memandang bahwa proses diatas adalah efektif bagi guru yang hendak membantu siswa yang bertingkah laku menyimpang memperbaiki tingkah lakunya, sehingga menjadi positif. Sebagai tambahan Glasser mengajukan suatu proses untuk membantu seluruh kelas menangani masalah tingkah laku individual dan kelompok yaitu pertemua kelas untuk memecahkan masalah social.

Berbagai masalah tingkah laku dapat  diatasi melalui penggunaan seluruh kelas sebagai kelompok yang bersama-sama memecahkan masalah dibawah bimbingan guru. Tanpa bimbingan guru, siswa akan cenderung menghindari masalah-masalah itu. Glasser mengemukakan tiga pedoman untuk mengembangkan pertemuan kelas guna memecahkan masalah sosial, yakni:

Masalah apapun yang menyangkut individu atau kelompok dapat didiskusikan, masalah yang perlu dibahas itu dapat dikemukakan baik oleh guru maupun siswa.

Diskusi hendaklah diarahkan pada pemecahan masalah itu; suasana diskusi hendaknya bebas dari saling menuduh dan saling menghukum, pemecahan yang dicapai hendaknya tidak mencakup penerapan hukuman atau pencarian siapa bersalah.

Pertemuan diselenggarakan dalam suasana guru dan siswa duduk dalam satu lingkaran, pertemuan tidak hanya dilakukan sekali, tetapi sering; waktu setiap pertemuan antara 30 – 40 menit, tergantung pada umur siswa.

2.2.4 Menurut Rudolf Dreikurs

Ada dua hal yang amat penting yang dikemukakan oleh Rudolf Dreikurs, yaitu

Penekanan akan pentingnya suasana kelas yang demokratis, dimana guru dan siswa bersama – sama mewujudkan rasa tanggung jawab demi kelancaran dan keberhasilan kegiatan kelas.

Perlunya diperlihatkan pengaruh akibat – akibat tertentu (dari suatu tindakan atau kejadian) atas tingkah laku siswa.

Anggapan dasar yang dominan berkenaan dengan pendapat Dreikurs ini adalah bahwa tingkah laku dan keberhasilan siswa tergantung pada suasana demokratis yang ada di dalam kelas. Kelas yang otokratis adalah kelas dimana guru mempergunakan kekerasan, penekanan, persaingan, hukuman dan ancaman untuk mengontrol tingkah laku siswa. Sedangkan kelas yang bersuasana masa bodoh (laissez-faire) adalah kelas dimana guru terlalu sedikit atau sama sekali tidak memperhatikan kepemimpinan di kelas itu dan terlalu banyak memberikan kebebasan kepada siswa. Baik kelas yang otokratis maupun masa bodoh mengarahkan siswa terjerumus kedalam frustasi, kekerasan dan  suasana menarik diri. Kedua suasana kelas ini sama sekali tidak produktif. Sebaliknya kelas yang benar – benar produktif hanya kelas yang bersuasana demokratis. Dalam suasana kelas yang demokratis  siswa diperlakukan sebagai individu yang bertanggung jawab, berharga, dan mampu mengambil keputusan dan memecahkan masalah. Dalam suasana demokratis ini dikembangkan rasa saling percaya mempercayai antara guru dan siswa, dan antara siswa dengan siswa lainnya.

Guru yang ingin menciptakan suasana kelas yang demokratis tidak boleh menjadi penguasa atau melepaskan tanggung jawab di kelasnya. Guru yang demokratis bersifat membimbing, sedangkan guru yang otokratis bersifat mendominasi dan guru yang masa bodoh bersifat melepaskan tanggung jawab atas pembinaan dan keberhasilan kelasnya. Guru yang demokratis mengajarkan tanggung jawab kepada para siswanya dan membagi tanggung jawab itu untuk semua siswa dan guru.

Kunci keberhasilan dari organisasi kelas yang demokratis ini adalah adanya diskusi – diskusi yang mantap dan terbuka. Dalam kegiatan ini guru bertindak sebagai pemimpin, membimbing kelompok siswa yang mendiskusikan masalah – masalah dan kepentingan mereka. Hasil dari kegiatan ini ada 3, yaitu guru dan siswa mempunyai kesempatan untuk :

mengemukakan segala sesuatu yang dirasakan secara terbuka,

saling memahami,

saling bantu membantu.

Pemikiran Dreikurs kedua yang amat penting adalah pengaruh akibat-akibat tertentu terhadap tingkah laku siswa. Ada 2 akibat yang diperhatikannya, yaitu akibat alamiah dan akibat logis. Akibat alamiah adalah hal- hal yang ditimbulkan oleh tingkah laku siswa tersebut, sedangkan akibat logis adalah hal – hal yang diharapkan timbul berkat pengaturan atau rencana dari pihak guru. Akibat alamiah dari kekurang hati – hatian siswa bekerja di laboratorium, misalnya adalah tangan terbakar atau terluka oleh pecahan gelas atau alat pratikum, sedangkan akibat logisnya adalah siswa harus mengganti alat pratikum yang pecah itu.agar suatu akibat dapat merupakan akibat logis, maka terlebih dahulu siswa harus menganggapnya demikian. ”Jika untuk akibat yang dimaksud logis itu siswa memandangnya sebagai hukuman, maka efek positifnya akan hilang.” Selanjutnya, Drekurs dan kawan – kawannya mengemukakan 5 kriteria untuk membedakan akibat logis dari hukuman.

Akibat logis berkaitan dengan kenyataan yang menyangkut aturan sosial, tidak menyangkut orang – orang tertentu saja; hukuman merupakan perwujudan dari kekuasaan (otoritas) seseorang; akibat logis merupakan akibt dari dilanggarnya aturan sosial yang telah diterima bersama.

Akibat logis berkaitan secara logis dengan tingkah laku  yang menyimpang; hukuman jarang dihubungkan secara logis seperti itu: siswa dengan jelas dapat melihat hubungan antara tingkah laku yang menyimpang dengan akibat logisnya.

Akibat logis tidak menyangkut pautkan dengan penilaian moral; hukuman mau tidak mau berkaitan dengan penilaian moral: tingkah laku siswa yng menyimpang tidak dipandang sebagai dosa, melainkan sebagai kesalahan semata – mata.

Akibat logis hanya berkaitan dengan hal – hal yang terjadi; hukuman berkaitan apa yang sudah terjadi: titik pusat perhatian adalah masa depan.

Akibat logis dikenakan kepada siswa dalam suasana keakraban; hukuman dikenakan dalam suasana marah (secara terbuka atau terselubung).

2.3 Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Iklim Sosio-Emosional

2.3.1 Kelebihan Pendekatan Iklim Sosio-Emosional

Siswa merasa nyaman di kelas kerena terjalin hubungan yang baik dengan guru.

Penyelesaian suatu masalah dipecahkan bersama melalui pertemuan kelas.

Pelajaran diyakini akan lebih mudah diterima karena siswa merasa nyaman, tentram dan aman dengan situasi yang ada.

Terbinanya sikap demokratis.

Selalu ada penghargaan , jadi setiap kegagalan tidak akan membunuh motivasi siswa.

Siswa belajar untuk saling menghargai teman ataupun guru.

2.3.2 Kelemahan Pendekatan Iklim Sosio-Emosional

Apabila hubungan siswa terlalu dekat dengan guru atau guru terlalu baik akan menimbulkan sikap siswa yang terlalu bebas.

Sulit untuk memahami karakter emosi setiap siswa di kelas, maka diperlukan ketrampilan guru yang lebih untuk membuat iklim sosio emosional yang kondusif.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Pendekatan iklim sosio-emosional dalam pengelolaan kelas berakar pada psikologi penyuluhan (konseling) dan klinis sehingga menekankan pentingnya hubungan interpersonal. Pendekatan iklim sosio-emosional akan tercapai secara maksimal apabila hubungan antara pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan murid serta hubungan antar siswa. Di dalam hal ini, guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut.

Pada pendekatan iklim sosio-emosional, terdapat beberapa pakar atau ahli yang mengemukakan pendapatnya, yaitu Carl Rogers, Haim C. Ginnot, William Glasser, dan Rudolf Dreikurs. Carl Rogers menekankan pentingnya mutu sikap dalam hubungan interpersonal antara guru dengan siswanya. Haim C. Ginnot, menekankan pentingnya komunikasi yang diselenggarakan oleh guru. William Glasser menekankan pentingnya kebutuhan akan identitas diri, sedangkan Rudolf Dreikurs beranggapan tingkah laku dan keberhasilan siswa tergantung pada suasana demokratis yang ada di dalam kelas.

Pendekatan iklim sosio-emosional memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Beberapa kelebihan dari pendekatan iklim sosio-emosional adalah siswa merasa nyaman karena terbinanya hubungan yang baik antara guru  dan penyelesaian masalah dilakukan dengan pertemuan kelas. Kelemahan pendekatan iklim sosio-emosional adalah jika hubungan siswa terlalu dekat dengan guru atau guru terlalu baik akan menimbulkan sikap siswa yang terlalu bebas.

SARAN

Dalam menerapkan pendekatan iklim sosio-emosional di dalam kelas, guru sebaiknya memahami betul mengenai pendekatan iklim sosio-emosional sehingga dalam penerapannya di kelas diperoleh hasil yang maksimal

 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2013 in KULIAH

 

Pembuktian Dalil phytagoras

Teorema phytagoras sangat erat hubungannya dengan segita siku-siku. Sisi segitiga siku-siku yakni masing-masing ada a, b, c.  sisi terpanjang adalah c. Seperti yang telah kita ketahui rumus phytagoras adalah

rumus-phytagorasimages

:

Perhatikan gambar dibawah ini, untuk membuktikan teorema phytagoras kita dapat menggunakan bantuan persegi   :

persegi

Pada gambar diatas, terdapat persegi dengan sisi (a+b) dan di dalamnya ada persegi dengan sisi c.

jadi didapat:

Luas persegi dengan sisi (a + b) = luas persegi sisi c ditambah 4 x luas segitiga

r2

 

TERBUKTI!

 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2013 in SMP

 

SATUAN VOLUME DAN WAKTU

A. SATUAN VOLUME

satuan volume dan waktu

Keterangan :

km = kilometer

hm = Hektometer

dam = dekameter

m = meter

dm = desimeter

cm =sentimeter

mm =millimeter

1 liter = 1dm3 = 10-3 m3

Contoh Soal :

1. 6 km^3 = …..dam^3

Karena turun 2 tangga maka dikalikan 1.000.000

Jadi 6 km^3 = 6.000.000 dam^3

2. 2000 cm^3 =….. dm^3

Karena naik 1 tangga maka dibagi  1000

Jadi 2000 cm^3 =  2 dm^3

B. SATUAN WAKTU

Kamu pasti sering melihat jam ataupun kalender yang ada dirumahmu.

kalender jam

Tahukah kamu apa kegunaan dari kedua benda tersebut? Yap, Kalender dan jam berfungsi untuk mengetahui waktu.

1 menit = 60 detik

1 jam = 60 menit

1 jam = 3600 detik

1 hari = 24 jam

1 minggu = 7 hari

1 bulan = 30 hari

1 bulan = 4 minggu

1 windu = 8 tahun

1 tahun = 12 bulan

1 dasawarsa = 10 tahun

1 abad = 100 tahun

Contoh Soal :

1. 1 jam + 120 menit  = …. Jam

Jawab :

60 menit = 1 jam

120 menit = 2 jam

Jadi , 1 jam +  120 menit = 1 jam + 2 jam = 3 jam

2.3600 detik + 20 menit  =… menit

Jawab :

3600 detik = 1 jam

1 jam  = 60 menit

Jadi, 3600 detik + 20 menit = 60 menit +20  menit = 80 menit

3. 7 hari + 48 jam =…. Hari

Jawab :

1 hari = 24 jam

48 jam = 2 hari

Jadi, 7 hari + 48 jam = 7 hari + 2 hari = 9 hari

 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2013 in SD